"Sial, memang sulit kalau miskin!" Setiap tahun, bahkan setiap bulan aku harus pindah-pindah tempat tinggal. Selain karena si empunya tempat tinggal menaikkan harga seenaknya, aku juga sulit beristirahat karena orang yang tinggal di sekitar tempat tinggalku yang berisik. Mulai dari suara bayi, suara musik dengan volume yang besar, dsb. "Semoga tempat ini nyaman," pekikku dalam hati saat membawa kardus yang berisi barang-barang ke dalam kontrakan ini. Sebuah rumah sederhana, sangat sederhana. Memang ukurannya tidak seberapa tapi ketika diperhatikan lagi, rumah ini ternyata luas juga. Tetapi luasnya itu memanjang ke belakang, jadi seperti persegi panjang vertikal (tegak lurus). Kontrakan yang aku tempati ini sebenarnya sebuah rumah yang dibagi menjadi dua. Aku masih bisa melihat dengan jelas bekas cor-an semennya. Ya karena warna bekas cor-an itu berbeda dengan warna cat yang ada di dinding yang lain. "Huft, akhirnya selesai juga." Uca...